Kenapa Baca Ini
Bayangkan seorang lelaki berusia enam puluh lima tahun, di tengah Eropa yang remuk oleh perang Napoleon, membuka sebuah buku terjemahan. Di halaman pertamanya, ia bertemu seorang penyair Persia yang telah mati empat abad sebelumnya. Dalam hitungan halaman, ia merasa menemukan saudara kembar jiwanya.
Itulah yang terjadi pada Johann Wolfgang von Goethe ketika membaca terjemahan Divan Hafiz dari Syiraz oleh Joseph von Hammer-Purgstall pada 1814. Goethe, penyair terbesar Jerman, sudah menulis Faust, Sorrows of Young Werther, Iphigenie, dan puluhan mahakarya lain. Ia sudah lelah. Eropa sedang berdarah. Tatanan lama runtuh. Ia membutuhkan udara yang berbeda.
West-östlicher Divan (1819) lahir dari pertemuan itu: dua belas kitab puisi yang menjadi jembatan kebudayaan terbesar yang pernah ditulis seorang penyair Barat kepada Timur. Goethe menulisnya sebagai murid Hafiz, sebagai Zwilling (kembaran), sebagai seseorang yang mau membiarkan dirinya diubah oleh apa yang ia temukan dalam puisi Persia.
Dalam karya ini, Goethe melampaui terjemahan dan tiruan. Ia masuk ke dalam tradisi sufistik dengan kerendahan hati yang jarang sekali ditemukan dalam sastra Barat. Puisi-puisinya membawa imej dari Hafiz seperti lilin dan ngengat, anggur dan saki, gurun dan oasis, lalu mengalirkannya ke dalam bahasa Jerman dengan ritme yang setara. Beberapa baitnya langsung mengutip Al-Qur'an. Ia menempatkan dirinya di ambang surga Islam sebagai tamu yang menghormati tuan rumah.
Kitab ini akan paling bergema di hati pembaca yang mencari jembatan antara dua dunia, yang merindukan cinta yang dalam dan transformasi rohani, yang mau melihat bagaimana seorang penyair Lutheran dari Jerman bisa mengutip Al-Qur'an dengan kerendahan hati yang utuh. Bagi pembaca Indonesia yang memiliki akar Islam, Divan menawarkan sesuatu yang langka: cermin tentang warisan kita sendiri, dilihat melalui mata seorang genius dari peradaban lain yang datang untuk belajar.
Konteks Historis: Goethe Bertemu Hafiz
Hafiz dari Syiraz hidup sekitar 1315-1390. Ia menyaksikan kelahiran dan keruntuhan banyak dinasti, hidup di bawah penguasa yang silih berganti, dan sepanjang masa itu puisi-puisinya tentang cinta, anggur, dan Tuhan menjadi bahasa rakyat Persia selama tujuh abad. Hafiz dibaca seperti orang membaca nabi.
Pada 1812-1813, Joseph von Hammer-Purgstall, seorang orientalis Austria, menerbitkan terjemahan lengkap Divan Hafiz ke dalam bahasa Jerman. Buku itu jatuh ke tangan Goethe pada 1814. Pada saat yang hampir bersamaan, Goethe bertemu Marianne von Willemer di Frankfurt. Marianne berusia 30 tahun, cerdas, seorang penyanyi dan pianis. Pertemuan itu menyalakan sesuatu yang tidak bisa dibendung oleh konvensi apapun.
Antara 1814 dan 1819, Goethe menulis dua belas kitab puisi yang ia susun mengikuti tradisi Divan Persia. Setiap kitab diberi nama Persia: Moganni Nameh (Kitab Sang Penyair), Hafis Nameh (Kitab Hafiz), Uschk Nameh (Kitab Cinta), Suleika Nameh (Kitab Suleika), dan seterusnya. Pilihan struktur itu adalah pernyataan: Goethe menulis sebagai murid yang menghormati gurunya, dengan meminjam bahkan kerangka karyanya.
Karya ini diterbitkan untuk pertama kalinya pada 1819 dan diperluas pada 1827. Noten und Abhandlungen, catatan dan esai panjang yang mengikuti puisi-puisi tersebut, menjadi salah satu pengantar paling kaya tentang sastra dan budaya Persia yang pernah ditulis di Eropa pada abad ke-19.
Tema Utama: Hijrah ke Timur
Puisi pembuka Divan, "Hegire," adalah deklarasi rohani sang penyair yang memilih arah.
Nord und West und Süd zersplittern, Throne bersten, Reiche zittern: Flüchte du, im reinen Osten Patriarchenluft zu kosten, Unter Lieben, Trinken, Singen Soll dich Chisers Quell verjüngen.
Utara, Barat, dan Selatan berkeping-keping, tahta-tahta retak, kerajaan-kerajaan gentar: larilah ke Timur yang murni untuk mencicipi udara para Patriark, di antara mencinta, minum, dan bernyanyi sumber Khidir akan meremajakan dirimu.
Empat baris pertama adalah peta mental Eropa tahun 1810-an. "Chisers Quell," Sumber Khidir, adalah referensi sufistik yang dalam. Al-Khidir dalam tradisi Islam adalah hamba Allah yang abadi, penjaga ilmu tersembunyi, guru bagi para pejalan rohani. Goethe memilih Khidir sebagai simbol pembaruan, dengan mengabaikan Achilles atau Odysseus dari tradisinya sendiri.
Dalam bait selanjutnya Goethe menyatakan kerinduannya pada bahasa primordial, ketika kata-kata masih memiliki berat:
Wie das Wort so wichtig dort war, Weil es ein gesprochen Wort war.
Betapa kata begitu bermakna di sana, karena ia adalah kata yang diucapkan.
Goethe merindukan zaman ketika kata yang diucapkan adalah perjanjian, sumpah, doa, dan nyawa sekaligus. Hijrah ke Timur baginya adalah gerakan jiwa ke titik di mana kata dan kebenaran masih satu napas.
Tujuh Mahakarya: Quote-quote yang Wajib Dikenal
1. Selige Sehnsucht: "Stirb und werde"
Salah satu puisi terbesar dalam bahasa Jerman, dianggap puncak filsafat transformasi sufistik dalam sastra Barat.
Sagt es niemand, nur den Weisen, Weil die Menge gleich verhöhnet: Das Lebendige will ich preisen, Das nach Flammentod sich sehnet.
Keine Ferne macht dich schwierig, Kommst geflogen und gebannt, Und zuletzt, des Lichts begierig, Bist du Schmetterling verbrannt.
Und so lang du das nicht hast, Dieses: Stirb und werde! Bist du nur ein trüber Gast Auf der dunklen Erde.
Jangan ceritakan kepada siapa pun, hanya kepada yang bijaksana, karena orang banyak akan langsung mengejek: aku ingin memuji yang hidup, yang merindukan kematian dalam nyala api... Tidak ada jarak yang sulit bagimu, kau datang terbang dan terpikat, dan akhirnya, haus akan cahaya, kau ngengat yang terbakar. Dan selama kau belum memiliki ini, "Mati dan jadilah!" kau hanyalah tamu yang suram di bumi yang gelap ini.
Imej ngengat yang terbakar lilin adalah warisan Rumi, Hafiz, dan Attar. Goethe mengambilnya dan memberi padanannya dalam bahasa Jerman yang paling murni. Di sini Divan membuktikan dirinya: dua tradisi puisi besar bertemu dalam satu nyala api.
2. Talismane: "Gottes ist der Orient!"
Gottes ist der Orient! Gottes ist der Occident! Nord- und südliches Gelände Ruht im Frieden seiner Hände!
Milik Allah-lah Timur! Milik Allah-lah Barat! Wilayah utara dan selatan beristirahat dalam kedamaian tangan-Nya!
Empat baris ini menggemakan langsung QS. Al-Baqarah: 115. Goethe mengundang ayat itu ke dalam puisinya dengan kesadaran penuh, lalu membangun di atasnya sebuah pengakuan iman yang ekumenis. Posisi teologis yang berani untuk seorang penyair berlatar Lutheran Jerman pada abad ke-19.
3. Ginkgo Biloba: Daun yang Berbagi Diri
Puisi yang paling banyak dikutip dari seluruh Divan, diukir di prasasti, diabadikan di cincin dan batu nisan di seluruh Eropa.
Dieses Baums Blatt, der von Osten Meinem Garten anvertraut, Gibt geheimen Sinn zu kosten, Wie's den Wissenden erbaut.
Ist es ein lebendig Wesen, Das sich in sich selbst getrennt? Sind es zwei, die sich erlesen, Daß man sie als eines kennt?
Solche Fragen zu erwidern, Fand ich wohl den rechten Sinn: Fühlst du nicht an meinen Liedern, Daß ich eins und doppelt bin?
(In English: "This tree's leaf, entrusted from the East to my garden, offers secret meaning to savour as it edifies the knowing. Is it one living being that has divided within itself? Are there two who have chosen each other so that the world knows them as one? Such questions answered rightly: I have found the meaning at last. Do you not feel in my songs that I am one and double?")
Daun ginkgo memiliki biologi yang unik: selembar daun berlekuk ke tengah, seolah dua daun yang bergabung menjadi satu, atau satu daun yang terbelah menjadi dua. Goethe menjadikannya teka-teki botani sekaligus metafora terdalam tentang diri dan kekasih. Pohon ginkgo adalah yang paling tua di bumi, fosil hidup sejak 270 juta tahun lalu, sebelum dinosaurus. Pilihan yang sesempurna ini hanya bisa lahir dari kejeniusan yang berbarengan dengan ketulusan.
4. Wiederfinden: Pertemuan Kembali Dua Jiwa Kosmis
Mahkota kosmologis dari Buch Suleika.
Stumm war alles, still und öde, Einsam Gott zum ersten Mal! Da erschuf er Morgenröte, Die erbarmte sich der Qual.
Allah braucht nicht mehr zu schaffen, Wir erschaffen seine Welt.
Segala sesuatu bisu, sunyi dan kosong, Allah sendirian untuk pertama kalinya! Lalu Ia menciptakan fajar pagi yang berbelas kasih pada penderitaan itu... Allah tidak perlu menciptakan lagi, kita menciptakan dunia-Nya.
Goethe bergerak dari yang personal ke yang kosmologis dalam satu puisi. Perjumpaan kembali dua jiwa yang terpisah adalah pengulangan dari tindakan penciptaan pertama. Cinta adalah kekuatan yang mengumpulkan kembali apa yang tercerai-berai. Baris terakhir "Wir erschaffen seine Welt" adalah klimaks teologis yang berani: cinta manusia sebagai partisipasi dalam tindakan penciptaan Tuhan yang terus berlanjut.
5. Bagdad Tidak Jauh bagi yang Mencintai
Bist du von deiner Geliebten getrennt Wie Orient vom Occident, Das Herz durch alle Wüsten rennt; Es gibt sich überall selbst das Geleit, Für Liebende ist Bagdad nicht weit.
(In English: "If you are separated from your beloved like East from West, the heart runs through all deserts; it gives itself escort everywhere. For lovers, Baghdad is not far.")
Lima baris yang menjadi salah satu sajak cinta paling padat dalam sastra dunia. Jarak fisik kehilangan kekuasaannya di hadapan rindu yang sungguh. Bagi yang mencintai, peta dunia menyusut menjadi ukuran detak jantung sendiri.
6. An Suleika: Minyak Mawar dan Lumatan Jiwa
Puisi yang pendek secara fisik, berat secara moral.
Knospend müssen tausend Rosen Erst in Gluten untergehn,
Um ein Fläschchen zu besitzen, Das den Ruch auf ewig hält, Schlank wie deine Fingerspitzen, Da bedarf es einer Welt.
Hat nicht Myriaden Seelen Timurs Herrschaft aufgezehrt?
Ribuan kuntum mawar harus lebih dahulu lebur dalam api... Untuk memiliki satu botol kecil yang menyimpan wangi itu selamanya, seramping ujung jarimu, diperlukan satu dunia. Bukankah kekuasaan Timur telah menghabiskan jutaan jiwa?
Tiga lapis makna: proses penyulingan minyak mawar yang melebur ribuan kuntum, setiap kemewahan yang berdiri di atas tumpukan penderitaan, dan pertanyaan moral tentang kekuasaan dan harga jiwa. Goethe menyebut Timur Lenk dari empat abad sebelumnya, dengan tepat ketika Napoleon mundur dari Rusia. Jarak waktu adalah cara sastrawan berbicara tentang yang paling berbahaya untuk dikatakan langsung.
7. Gute Nacht: Penutupan Agung Sang Penyair
Dua belas baris yang menanggung beban seluruh Divan.
Nun, so legt euch, liebe Lieder, An den Busen meinem Volke! ... Und in einer Moschuswolke Hüte Gabriel die Glieder Des Ermüdeten gefällig...
Ja, das Hündlein gar, das treue, Darf die Herren hinbegleiten.
Kini, rebahkanlah dirimu, syair-syairku yang kucintai, di dada rakyatku!... Dalam awan kesturi semoga Gabriel menjaga anggota tubuh sang penyair yang lelah dengan senang hati... Ya, anjing kecil yang setia pun boleh mengikuti para tuannya ke sana.
Goethe menutup karya terbesarnya dengan gambar seekor anjing kecil yang diizinkan masuk surga karena setia kepada tuannya. Anjing dari kisah Ashabul Kahfi yang ikut tertidur berabad-abad di gua batu. Penyair terbaik tahu kapan harus melepaskan karyanya. Puisi yang sudah selesai menjadi milik semua yang mau menerimanya.
Islam dalam Mata Goethe
West-östlicher Divan ditulis seorang penyair Lutheran dari Weimar yang memilih duduk sebagai murid di hadapan tradisi Islam-Persia. Sepanjang dua belas kitab, Goethe menyebut Allah, mengutip Al-Qur'an, memuja Khidir, menggambarkan Hafiz sebagai saudara jiwa. Yang lahir adalah salah satu pengakuan paling tulus seorang penyair Barat kepada keagungan tradisi rohani Timur. Berikut quote-quote yang menampakkan posisi teologis dan estetis Goethe terhadap Islam.
Mengutip Al-Qur'an dengan Kesadaran Penuh
Ayat pembuka filsafat Divan berdiri pada QS. Al-Baqarah: 115:
Gottes ist der Orient! Gottes ist der Occident! Nord- und südliches Gelände Ruht im Frieden seiner Hände!
Milik Allah-lah Timur! Milik Allah-lah Barat! Wilayah utara dan selatan beristirahat dalam kedamaian tangan-Nya!
Goethe mengundang ayat itu ke dalam puisinya dengan kesadaran penuh, lalu membangun di atasnya pengakuan iman ekumenis: Tuhan milik segenap penjuru angin, melampaui sekat tradisi dan bangsa. Posisi teologis yang berani dari seorang penyair Lutheran Jerman pada abad ke-19.
Talisman dan Nama Allah
Dalam puisi "Segenspfänder" Goethe memuja tradisi jimat Islam-Persia, ayat Al-Qur'an yang diukir di batu permata sebagai pelindung dan pengingat:
Wenn das eingegrabne Wort Allahs Namen rein verkündet, Dich zu Lieb und Tat entzündet.
Ketika kata yang terukir menyatakan nama Allah dengan murni, ia menyalakan dirimu untuk cinta dan perbuatan.
Bagi Goethe, kata yang diucapkan dengan tulus memiliki energi hidup. Ayat Al-Qur'an di batu permata adalah persaksian bahwa kata bisa menjadi perisai, dan mantra menjadi cahaya yang membakar jiwa untuk berbuat baik.
Khidir sebagai Pemandu Rohani
Puisi pembuka "Hegire" memilih Khidir sebagai simbol pembaruan, sosok yang dalam tradisi Islam adalah hamba Allah yang abadi, penjaga ilmu tersembunyi, guru bagi para pejalan rohani:
Unter Lieben, Trinken, Singen Soll dich Chisers Quell verjüngen.
Di antara mencinta, minum, dan bernyanyi, Sumber Khidir akan meremajakan dirimu.
Dari seluruh tokoh tradisi Yunani-Latin yang ia kuasai, Goethe memanggil Khidir. Pilihan itu adalah peta rohani: yang membaharui jiwa adalah air dari sumber Islam, ilmu yang dijaga oleh hamba Allah yang abadi.
Hafiz sebagai Penghafal Al-Qur'an
Buch Hafis membuka dengan dialog tentang asal nama "Hafis," yang dalam bahasa Arab berarti "penjaga" atau "penghafal Al-Qur'an":
Weil in glücklichem Gedächtnis Des Korans geweiht Vermächtnis Unverändert ich verwahre.
Karena di dalam ingatan yang berbahagia, warisan suci Al-Qur'an kupelihara tanpa ubah.
Goethe memahami bahwa "Hafiz" adalah gelar bagi penghafal Al-Qur'an, dan ia menempatkan Hafiz dari Syiraz dalam tradisi keilmuan Islam yang utuh: penyair yang juga seorang penghafal kitab suci, jiwa yang menyimpan firman Tuhan dalam dadanya.
Anggur Sufistik dan Pertanyaan tentang Al-Qur'an
Dalam Schenkenbuch, Goethe menyentuh perdebatan teologi klasik tentang sifat qadim atau makhluk Al-Qur'an, lalu memilih jalan sufistik:
Ob der Koran von Ewigkeit sei? Darnach frag ich nicht! Daß aber der Wein von Ewigkeit sei, Daran zweifl ich nicht.
Apakah Al-Qur'an bersifat qadim? Itu bukan urusanku! Bahwa anggur bersifat kekal, akan hal itu aku tidak ragu.
Goethe menjauh dari perdebatan kalam dan memilih bahasa sufistik Hafiz, di mana anggur menjadi simbol cinta Ilahi. Ia menempatkan tradisi khamriyyat dari Abu Nuwas, Ibn al-Farid, Hafiz, hingga Rumi sebagai jalan rohani yang sah, jalan yang berbicara tentang lenyapnya ego di hadapan keagungan Yang Esa.
Pidato Muhammad setelah Perang Badar
Buku Surga memuat momen yang paling megah: pidato Muhammad SAW di bawah langit berbintang setelah Perang Badar. Para syuhada disambut bidadari yang ingin tahu apa yang mereka perjuangkan, di mana luka mereka menjadi tanda kesetiaan kepada iman. Goethe menulis adegan ini dengan reverensi seorang outsider yang menghormati kesakralan momen historis dalam tradisi Islam.
Empat Perempuan Pilihan di Surga
"Auserwählte Frauen" mendaftarkan empat perempuan yang telah masuk surga: Suleika sang matahari bumi yang mencintai Yusuf, Maria bunda yang melahirkan keselamatan, Khadijah istri pertama Nabi yang membangun fondasi dakwahnya, dan Fatimah putri sekaligus istri yang berjiwa paling murni dalam raga bagaikan emas madu. Goethe merangkum keempat nama itu dengan hormat yang merata, dengan martabat yang setara di hadapan keagungan kosmis.
Ashabul Kahfi: Tujuh Pemuda Tidur
Puisi naratif terpanjang dalam Divan, "Siebenschläfer," diambil Goethe dari Surah Al-Kahfi dan tradisi Persia-Arab dengan cermat. Tujuh pemuda yang melarikan diri dari kaisar yang mengklaim dirinya tuhan, tertidur berabad-abad di gua, dijaga malaikat. Bukti kebatilan sang kaisar dalam versi Goethe begitu sederhana sekaligus tajam: seekor lalat pun mampu mengganggunya di meja makan.
Da kommt nun ein verfluchtes Insekt, Den Imbiß ihm zu trüben. Vor solcher Macht erschüttert nicht Die Götterherrlichkeit?
Maka datang seekor serangga terkutuk, yang mengganggu santapannya. Di hadapan kekuatan semacam itu, tidakkah keagungan ilahi runtuh?
Goethe membaca Al-Kahfi sebagai kisah tentang keberanian menolak penguasa yang mengklaim ketuhanan, dan keyakinan bahwa tidur panjang dalam lindungan Tuhan lebih mulia daripada kekuasaan duniawi. Anjing kecil yang setia menemani Ashabul Kahfi pun ikut masuk surga, gambar penutup Divan yang merayakan kasih sayang dan kesetiaan sebagai nilai kosmis.
Pengakuan Paling Padat tentang Islam
Salah satu pernyataan Goethe yang paling banyak dikutip dalam diskusi sastra dan agama:
Wenn Islam Gott ergeben heißt, In Islam leben und sterben wir alle.
Jika Islam berarti pasrah kepada Tuhan, maka dalam pasrah itu kita semua hidup dan mati.
Goethe membuka makna dasar kata "Islam" sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, lalu menempatkan setiap manusia yang sungguh-sungguh di hadapan Yang Esa dalam ruang itu. Pengakuan teologis dari penyair Lutheran yang lahir dari pemahaman, dengan kerendahan hati seorang murid yang menghormati keagungan tradisi yang lebih tua.
Refleksi Personal: Mengapa Divan Penting Hari Ini
West-östlicher Divan lahir di zaman yang mengingatkan kita pada zaman sekarang: Eropa yang terkoyak perang, tatanan lama yang runtuh, dan di tengah semua itu seorang penyair yang memilih membangun jembatan ke seberang. Sambil Eropa berdarah dalam perang Napoleon, Goethe memilih menulis tentang Hafiz, tentang Khidir, tentang Suleika, tentang angin timur yang membawa kabar kerinduan. Pilihan estetis itu adalah pilihan etis: menjawab zaman dengan menyodorkan sumber yang lebih tua, sumber yang masih bisa menyembuhkan.
Kita hidup di dunia yang jauh lebih mudah membangun tembok daripada jembatan. Timur dan Barat kini menjelma dua sistem nilai, dua cara memandang manusia dan Tuhan dan kebebasan, yang terus saling mencurigai. Dalam kondisi semacam itu, Divan berdiri sebagai bukti bahwa pertemuan peradaban bisa melahirkan persaudaraan jiwa, seperti yang tumbuh antara Goethe dan Hafiz, sesuatu yang jauh melampaui toleransi.
Yang mengesankan dari Goethe adalah kerendahan hatinya. Ia datang ke Hafiz sebagai murid, sebagai Zwilling (kembaran), sebagai seseorang yang mau membiarkan dirinya diubah oleh apa yang ia temukan. Cara pandang Goethe tentang kata, tentang cinta, tentang Tuhan, semua bergeser setelah bertemu Hafiz. Ini adalah apa yang dalam tradisi sufi disebut talaqqi, menerima ilmu dengan kehadiran jiwa penuh.
Bagi pembaca berlatar Islam, ada rasa tertentu yang lahir dari membaca Goethe yang mengutip Al-Qur'an, yang memanggil Allah dalam puisinya, yang menulis "Gottes ist der Orient! Gottes ist der Occident!" dengan keyakinan tulus. Rasa bahwa warisan kita begitu kaya hingga mampu menggerakkan jiwa-jiwa terbaik dari peradaban lain untuk datang, menimba, dan pulang dengan mengubah dunia mereka.
Divan juga mengajarkan tentang usia dan kreativitas. Goethe menulis karya ini pada usia 65 tahun, setelah menulis semua yang ia tulis. Ia membuktikan bahwa kemampuan untuk mencintai dan menciptakan tidak mengenal musim. Puisi-puisi paling bergairah dalam karir panjangnya lahir justru di musim gugur kehidupannya.
Quote Pilihan dari Dua Belas Kitab
Im Atemholen sind zweierlei Gnaden: Die Luft einziehn, sich ihrer entladen. Du danke Gott, wenn er dich preßt, Und dank ihm, wenn er dich wieder entläßt!
Dalam hembusan napas ada dua macam karunia: menghirup udara, dan melepaskannya. Bersyukurlah kepada Tuhan saat Ia menekanmu, dan bersyukurlah kepada-Nya saat Ia melepaskanmu kembali.
Daß du nicht enden kannst, das macht dich groß, Und daß du nie beginnst, das ist dein Los. Dein Lied ist drehend wie das Sterngewölbe, Anfang und Ende immerfort dasselbe.
Bahwa engkau tidak bisa berakhir, itulah keagunganmu. Bahwa engkau tidak pernah memulai, itulah takdirmu. Lagumu berputar seperti kubah bintang, awal dan akhir selalu satu.
(Tentang Hafiz, dari Buch Hafis)
Wunderlichstes Buch der Bücher Ist das Buch der Liebe. Aufmerksam hab ich's gelesen: Wenig Blätter Freuden, Ganze Hefte Leiden.
Buku paling ajaib dari segala buku adalah Kitab Cinta. Aku membacanya dengan saksama: sedikit lembar kebahagiaan, seluruh buku penderitaan.
Was verkürzt mir die Zeit? Tätigkeit! Was macht sie unerträglich lang? Müßiggang!
Apa yang mempersingkat waktu? Kegiatan! Apa yang membuatnya tak tertanggungkan? Kemalasan!
Mein Erbteil wie herrlich, weit und breit! Die Zeit ist mein Besitz, mein Acker ist die Zeit.
Warisanku betapa mulia, luas tak terbatas! Waktu adalah milikku, ladangku adalah waktu.
Wer schweigt, hat wenig zu sorgen; Der Mensch bleibt unter der Zunge verborgen.
Siapa yang diam punya sedikit kekhawatiran. Manusia tersembunyi di balik lidahnya.
Trunken müssen wir alle sein! Jugend ist Trunkenheit ohne Wein; Trinkt sich das Alter wieder zu Jugend, So ist es wundervolle Tugend.
Kita semua harus mabuk! Masa muda adalah mabuk tanpa anggur. Jika usia tua bisa kembali muda dengan meminumnya, itulah keutamaan yang ajaib.
(Dari Schenkenbuch, anggur sufistik sebagai simbol cinta Ilahi)
Schwerer Dienste tägliche Bewahrung, Sonst bedarf es keiner Offenbarung.
Penjagaan harian dari pelayanan yang berat, selain itu tidak diperlukan wahyu lainnya.
(Dari Buch des Parsen, tentang ajaran Zoroaster)
Wenn Islam Gott ergeben heißt, In Islam leben und sterben wir alle.
Jika Islam berarti pasrah kepada Tuhan, maka dalam pasrah itu kita semua hidup dan mati.
Salah satu pernyataan Goethe yang paling banyak dikutip tentang Islam, lahir dari kesadaran bahwa makna dasar kata "Islam" sebagai penyerahan diri kepada Tuhan adalah inti dari seluruh tradisi rohani manusia.
Poin Penting
-
Goethe menulis Divan saat Eropa retak oleh perang Napoleon, dan ia memilih bergerak menuju Timur ketimbang ikut larut dalam keruntuhan di sekelilingnya. Ia mencari udara para Patriark, matahari yang lebih tua, peradaban yang kata-katanya masih bertimbangan. Hijrah itu lebih dulu hijrah jiwa sebelum jadi tema puisi. "Chisers Quell," Sumber Khidir, menjadi mata air yang ia tuju untuk meremajakan diri yang sudah lelah oleh zaman.
-
Hafiz dan Goethe dipisahkan tujuh ratus tahun, dua bahasa, dua benua, dan tetap menghayati dunia dengan cara yang seirama. Cinta mereka pahami sebagai jalan rohani, keindahan sebagai jendela menuju Yang Ilahi, puisi sebagai jembatan antara bumi dan langit. Goethe menyebut Hafiz sebagai Zwilling, kembarannya. Pertemuan dengan terjemahan Hammer-Purgstall pada 1814 menyalakan seluruh proyek ini.
-
"Stirb und werde" (Mati dan jadilah) meringkas filsafat fana dan baqa tasawuf dalam dua kata Jerman. Tanpa kesediaan untuk hancur lalu lahir kembali, seseorang hanya menjadi tamu yang suram di bumi yang gelap.
-
"Gottes ist der Orient!" memungut langsung QS. Al-Baqarah: 115. Tuhan milik segenap penjuru angin, melampaui sekat tradisi dan bangsa. Sebuah posisi teologis yang berani bagi penyair berlatar Lutheran Jerman pada abad ke-19.
-
Sajak "Ginkgo Biloba" mengabadikan teka-teki dua jiwa yang menjadi satu. Goethe mengirimnya kepada Marianne von Willemer pada 15 September 1815 dengan dua daun ginkgo asli yang ditempel di kertas, kunci kode bagi sepasang kekasih yang saling mengenal di balik nama samaran Hatem dan Suleika.
-
Marianne von Willemer ikut menulis beberapa puisi terindah dalam Buch Suleika, dan identitasnya sebagai ko-penulis baru terungkap setelah ia wafat.
-
Schenkenbuch membawa tradisi khamriyyat Hafiz dan Khayyam ke dalam Jerman: anggur sebagai simbol cinta Ilahi, mabuk sebagai jiwa yang melepaskan kendali ego, Saki sebagai pemandu rohani.
-
Buku penutup Divan memuat kisah Ashabul Kahfi, Tujuh Pemuda Tidur, dengan detail hidup dari tradisi Quran-Persia. Goethe duduk di ambang surga Islami dengan sikap seorang tamu yang menghormati tuan rumahnya.
-
Goethe menulis puisi-puisi paling bergairah dalam karier panjangnya pada usia 65 tahun, di musim gugur hidupnya, sebuah bukti bahwa kemampuan mencintai dan mencipta tidak mengenal musim.
FAQ
Apa itu West-östlicher Divan, dan kenapa namanya separuh Jerman separuh Persia?
Judulnya sendiri sudah memeluk dua dunia: West-östlicher (Barat-Timur) dalam Jerman, Divan dari Persia. Karya ini adalah kumpulan puisi Johann Wolfgang von Goethe, terbit pertama pada 1819 dan diperluas pada 1827, berisi dua belas kitab yang ditulis sebagai homage kepada Hafiz, penyair Persia abad ke-14. Kata Divan dalam tradisi Persia berarti himpunan puisi seorang penyair, biasa disusun mengikuti urutan abjad Arab atau tema. Goethe meminjam bentuk itu untuk menulis dengan sikap seorang murid yang duduk di hadapan gurunya.
Saya tidak tahu satu kata pun bahasa Jerman. Apa masih ada gunanya membaca Divan?
Masih, dan ini pertanyaan yang jujur. Tersedia beberapa terjemahan kuat: John Whaley ke bahasa Inggris (Suhrkamp), Eric Ormsby, dan Martin Bidney. Untuk pembaca Indonesia, edisi bilingual Jerman-Inggris dengan catatan kaki memberi pengalaman paling utuh, sebab puisi Goethe banyak bermain dengan bunyi, ritme, dan ambiguitas yang susah dipindahkan ke bahasa lain. Anggap saja terjemahan sebagai pintu; teks Jerman di sebelahnya tetap mengintip lewat jendela. Sekali membaca Divan, Anda sekaligus menyelami sastra Persia, sastra Jerman, sampai tradisi rohani lintas peradaban yang menyatukan keduanya.
Apakah Goethe masuk Islam?
Tidak. Goethe tetap pemikir berlatar Lutheran sepanjang hidupnya, tanpa pernah secara formal memeluk Islam. Yang ia lakukan adalah menulis tentang Islam dengan kerendahan hati dan pengakuan teologis yang tulus, sebagai penyair yang menghormati keindahan rohani sebuah tradisi yang berbeda dari kelahirannya. Ia pernah menulis bahwa jika Islam berarti pasrah kepada Tuhan, maka dalam pasrah itu setiap manusia hidup dan mati.
Goethe penyair Lutheran. Tidakkah ia hanya "mengeksotiskan" Timur seperti Orientalis lain?
Inilah keberatan yang paling layak diajukan, dan jawaban Goethe ada di sikapnya. Banyak Orientalis abad ke-19 memandang Timur dari atas, sebagai objek yang dipajang. Goethe memilih posisi sebaliknya: ia duduk sebagai murid, menyebut Hafiz sebagai Zwilling (kembarannya), mengutip Al-Qur'an dengan kesadaran penuh, dan menempatkan dirinya di ambang surga Islam sebagai tamu yang menghormati tuan rumah. Ia membiarkan dirinya diubah oleh apa yang ia baca. Tentu jejak romantisme zamannya tetap ada, dan pembaca kritis boleh menimbangnya. Sikap dasarnya tetap sikap belajar.
Mengapa justru Hafiz, dari sekian banyak penyair?
Goethe membaca terjemahan Joseph von Hammer-Purgstall pada 1814 dan merasa menemukan saudara jiwa lintas tujuh abad. Keduanya menghayati cinta sebagai jalan rohani, keindahan sebagai jendela menuju Yang Ilahi, puisi sebagai medium antara bumi dan langit.
Apa beda anggur dalam Schenkenbuch dengan mabuk biasa?
Das Schenkenbuch (Kitab Sang Penuang) memuja Saki, sang penuang dalam tradisi mistik Persia. Anggur di sini adalah simbol cinta Ilahi, mengikuti tradisi khamriyyat dari Hafiz, Khayyam, dan Rumi. "Mabuk" yang dimaksud adalah kondisi jiwa yang melepaskan kendali ego lalu mendekat kepada Tuhan. Saki berperan sebagai pemandu rohani, sang penuang yang membuka pintu pengetahuan tersembunyi. Maka membacanya sebagai pesta minum semata akan meleset dari maksud Goethe.
Kenapa sehelai daun ginkgo bisa jadi puisi cinta paling masyhur?
Karena daun itu menjawab pertanyaan terdalam dua orang yang saling mencintai: apakah kita dua yang menjadi satu, atau satu yang terbelah menjadi dua? Goethe mengirim sajak "Ginkgo Biloba" kepada Marianne von Willemer pada 15 September 1815 lengkap dengan dua daun ginkgo asli yang ditempel di kertas. Pohon ginkgo sendiri yang paling tua di bumi, fosil hidup sejak 270 juta tahun, sehingga ia memang simbol cinta yang menembus zaman.
Siapa Marianne von Willemer, dan benarkah ia ikut menulis?
Benar. Marianne von Willemer (1784-1860) adalah perempuan yang dicintai Goethe di masa tua. Mereka bertemu pada 1814, saat Goethe 65 tahun dan Marianne 30. Marianne adalah istri sahabat Goethe, Johann Jakob von Willemer. Pertukaran puisi mereka melahirkan beberapa karya terindah dalam Buch Suleika, dan sejumlah puisi yang terbit atas nama Goethe sesungguhnya ditulis oleh tangan Marianne. Perannya sebagai ko-penulis baru terungkap setelah ia wafat.
Kalau cuma sempat menghafal empat kutipan, mana yang harus kupilih?
Pilih keempat ini. (1) "Stirb und werde!" (Mati dan jadilah) dari Selige Sehnsucht, ringkasan filsafat transformasi sufistik. (2) "Gottes ist der Orient! Gottes ist der Occident!" dari Talismane, pengakuan ekumenis. (3) "Für Liebende ist Bagdad nicht weit" (Bagi yang mencintai, Bagdad tidaklah jauh) dari Buch Suleika. (4) "Eins und doppelt" (Satu dan ganda) dari Ginkgo Biloba.
Seberapa dalam akar Divan dalam tradisi sufi?
Sampai ke akarnya. Goethe memungut banyak motif sufistik dari Hafiz, Rumi, Saadi, dan Attar: ngengat dan lilin, anggur dan saki, gurun dan oasis, kekasih dan yang dicintai, fana dan baqa. Frase "Stirb und werde" adalah versi Goethe atas konsep fana (pemusnahan ego) yang disusul baqa (ketahanan dalam Tuhan). Di situ puisi mistik Persia dan puisi liris Jerman saling bertemu dalam satu napas.
Buat pembaca Indonesia, kenapa karya seorang Jerman ini terasa dekat?
Karena ia mengembalikan cermin kepada kita. Bagi pembaca Indonesia yang berakar pada tradisi Islam, Divan memperlihatkan warisan sendiri lewat mata seorang genius dari peradaban lain. Goethe membuktikan bahwa puisi Persia, Al-Qur'an, dan tasawuf sanggup menggerakkan puisi terbesar Barat di abad ke-19. Membacanya seperti menemukan harta di rumah sendiri yang baru kita sadari nilainya.
Bacaan Lanjutan
Untuk memperdalam pemahaman tentang Divan, beberapa sumber rekomendasi:
- Edisi teks asli: Reclam Universal-Bibliothek No. 6785-2 (edisi standar dengan catatan kaki lengkap)
- Terjemahan Inggris: John Whaley, West-Eastern Divan (Suhrkamp, 2014), dengan pengantar akademis
- Analisis mendalam: Eric Ormsby, Hafiz and the Religion of Love in Classical Islam, panduan masuk ke latar belakang Hafiz
- Konteks sejarah: Geneviève Bianquis, Goethe et l'Orient, monografi tentang pengaruh Timur pada Goethe
- Sufisme terkait: Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, peta klasik tasawuf yang lebih luas
Penutup
West-östlicher Divan berdiri sebagai dokumen pertemuan dua peradaban yang ditulis dengan kerendahan hati seorang murid kepada gurunya. Goethe menulis pada usia 65 dengan keyakinan bahwa pembaruan jiwa selalu mungkin, bahwa cinta tidak mengenal musim, bahwa Timur dan Barat adalah dua tangan yang sama dari satu Tuhan.
Membaca Divan adalah ziarah jiwa. Setiap puisinya adalah pintu yang terbuka ke Hafiz, ke Saadi, ke Rumi, ke Khidir, ke Suleika, ke Marianne. Setiap blockquote Jerman yang Anda baca di halaman ini adalah panggilan untuk membuka edisi lengkap dan mencicipi keindahan yang Goethe tinggalkan untuk kita.
Mulailah dengan "Hegire". Lanjutkan ke "Selige Sehnsucht". Lalu biarkan diri Anda mengikuti angin timur yang Goethe panggil dalam Buch Suleika. Bagi yang mencintai, Bagdad tidaklah jauh. Bagi yang mau membuka jiwanya kepada keindahan lintas peradaban, Goethe sudah menyediakan peta selama dua abad.
Talismane werd ich in dem Buche Gar verstreuen und versöhnen.
Talisman-talisman akan kusebar di dalam buku ini, dan kuhubungkan satu sama lain.
Demikianlah Goethe membuka Divan: dengan janji bahwa setiap halaman adalah jimat, dan setiap pembaca adalah penerima warisan.
