Being and Time: Ontologi Eksistensi Heidegger
Buku

Being and Time: Ontologi Eksistensi Heidegger

oleh Martin Heidegger

4.5/5
Halaman:589
Penerbit:State University of New York Press
Tahun:1927
#heidegger#ontologi#fenomenologi#eksistensialisme#dasein#temporalitas#filsafat-barat#autentisitas#kematian#being-in-the-world#filsafat-kontemporer#metafisika

Being and Time: Ontologi Eksistensi Heidegger

Kenapa Baca Ini

Heidegger membongkar dua ribu tahun filsafat Barat melalui Dasein: makhluk yang ada-nya selalu menjadi urusan baginya, terikat waktu, kematian, dan care.

Being and Time (1927) adalah salah satu karya filsafat yang paling sering disebut dan paling jarang benar-benar dibaca sampai tuntas. Reputasi itu ada alasannya: Heidegger mengajukan tesis baru sekaligus membangun bahasa baru untuk menampungnya. Setiap istilah teknis, Dasein, care, thrownness, attunement, das Man, anticipatory resoluteness, adalah keputusan filosofis yang dipertanggungjawabkan di dalam teks itu sendiri.

Buku ini cocok untuk tiga jenis pembaca: mereka yang ingin memahami akar fenomenologi dan eksistensialisme secara langsung dari sumbernya; mereka yang pernah membaca Sartre, Camus, atau Frankl dan ingin mengerti fondasi ontologis di balik gagasan-gagasan tentang autentisitas, kecemasan, dan kematian; serta mereka yang mempertanyakan apakah cara mereka menjalani hari adalah pilihan yang sungguh-sungguh, atau hanyalah pelanjutan dari apa yang "sudah biasa dilakukan orang."

Pertanyaan yang Melatarbelakangi Segalanya

Being and Time lahir dari satu rasa curiga yang sangat mendasar: bahwa kita, pewaris dua ribu tahun filsafat Barat, sebenarnya tidak tahu apa artinya "ada." Kata "adalah" hadir di setiap kalimat yang pernah terucap. Setiap ilmu pengetahuan bergerak dalam pemahaman tertentu tentang cara sesuatu ada. Ketika ditanya dengan sungguh-sungguh, makna "ada" itu sendiri gelap sepenuhnya.

Heidegger membuka dengan tiga prasangka yang membuat pertanyaan tentang ada terasa tidak perlu. Pertama, ada adalah konsep paling universal, jadi sudah pasti paling jelas. Kedua, ada tidak bisa didefinisikan melalui cara biasa (genus dan pembeda), jadi pertanyaannya harus ditinggalkan. Ketiga, semua orang mengerti kata "ada" dalam percakapan, jadi tidak ada masalah.

Ketiga prasangka itu ia balik satu per satu. Justru karena ada paling universal, ia melampaui setiap alat konseptual yang lazim, dan itu membuatnya paling gelap. Justru karena tidak bisa didefinisikan dengan cara biasa, diperlukan cara yang seluruhnya lain. Dan justru karena semua orang "mengerti" tanpa bisa menjelaskan, ada sesuatu yang sangat dalam yang tersembunyi.

"The fact that we live already in an understanding of being and that the meaning of being is at the same time shrouded in darkness proves the fundamental necessity of retrieving the question of the meaning of 'being.'"

Kritik Heidegger terhadap tradisi filsafat ia namakan "destruksi" (Destruktion), sebuah pembongkaran yang produktif. Tradisi menutupi sumber-sumber asalnya sendiri; ketika suatu konsep menjadi "sudah jelas dengan sendirinya," itulah tanda bahwa pertanyaan aslinya sudah terlupakan. Gerakan ini adalah versi paling radikal dari apa yang kemudian dikenal sebagai second-order thinking: mempertanyakan apakah pertanyaannya sudah tepat sejak awal, sebelum mencari jawaban apapun.

Dasein: Makhluk yang Ada-nya Menjadi Urusannya

Pintu masuk Heidegger ke pertanyaan tentang ada adalah Dasein. Pilihan ini memiliki alasan struktural yang kuat. Dasein adalah satu-satunya makhluk yang ada-nya sendiri selalu sudah menjadi persoalan baginya. Batu, pohon, atau galaksi ada tanpa ada-nya menuntut sikap dari mereka. Dasein selalu mengambil sikap terhadap ada-nya sendiri, dalam setiap pilihan, dalam setiap cara menjalani hari.

"Dasein is a being that does not simply occur among other beings. Rather it is ontically distinguished by the fact that in its being this being is concerned about its very being."

Dua penemuan pokok tentang Dasein menopang seluruh analitik berikutnya. Pertama, esensi Dasein terletak pada eksistensinya. Berbeda dari meja yang punya atribut tetap (empat kaki, permukaan rata), Dasein tidak punya sifat-sifat yang melekat seperti cat pada tembok. Apa yang tampak sebagai "sifat" Dasein adalah cara-cara berada (ways to be), kemungkinan-kemungkinan eksistensial yang bisa ia genggam atau lepaskan.

"The 'essence' ['Wesen'] of Dasein lies in its existence [Existenz]. The characteristics to be found in this being are thus not present 'attributes' of an objectively present being which has such and such an 'outward appearance,' but rather possible ways for it to be, and only this."

Kedua, ada-nya Dasein selalu milikku sendiri (Jemeinigkeit, mineness). Dasein tidak bisa dibicarakan secara impersonal. Heidegger menolak memulai dari "subjek" atau "kesadaran" secara umum justru karena being Dasein selalu dalam kepemilikan orang pertama.

Dari dua tiang itu lahir pembedaan antara autentisitas (Eigentlichkeit) dan ketidakautentikan (Uneigentlichkeit). Pembedaan itu bersifat ontologis, murni tentang cara berada. Ketidakautentikan bahkan bisa terjadi dalam momen seseorang paling hidup, paling bergairah, paling menikmati hari. Perbedaannya terletak pada cara Dasein berhubungan dengan ada-nya sendiri: apakah ia menggenggam kemungkinan-kemungkinannya sebagai miliknya, ataukah ia menyerahkan penentuan dirinya kepada sesuatu yang anonim.

Being-in-the-World dan Dunia Peralatan

Heidegger memperkenalkan satu gagasan yang segera membongkar prasangka terbesar filsafat modern: being-in-the-world [In-der-Welt-sein] adalah konstitusi primordial Dasein, satu fenomen tunggal. Dasein sudah selalu ada bersama dunia. Akar kata "in" dalam Jerman kuno bermakna "mendiami, tinggal": to live, habitare. "Ich bin" berarti "saya tinggal dekat." Being-in adalah cara Dasein menghuni dunianya, akrab dengannya, merawatnya.

"Being-in is not a 'property' which Dasein sometimes has and sometimes does not have, without which it could be just as well as it could with it. It is not the case that human being 'is,' and then on top of that has a relation of being to the 'world' which it sometimes takes upon itself."

Dari sini, problem epistemologis klasik tentang bagaimana subjek bisa menjangkau objek kehilangan pijakannya. Pertanyaan itu sudah mengandaikan sebuah subjek yang pada dasarnya worldless. Dasein justru sudah selalu ada di luar, bersama benda-benda yang ditemuinya.

Untuk memperlihatkan struktur dunia, Heidegger menganalisis peralatan. Palu ada untuk memalu. Pemaluan ada untuk memasang. Pemasangan ada untuk perlindungan. Perlindungan ada demi eksistensi Dasein. Rantai "demi apa" ini berujung pada Dasein sendiri. Cara ada peralatan dalam pemakaiannya adalah handiness [Zuhandenheit], yang berbeda secara ontologis dari objective presence [Vorhandenheit], cara ada benda sebagai sesuatu yang hanya hadir di sana.

"The act of hammering itself discovers the specific 'handiness' ['Handlichkeit'] of the hammer."

Temuan yang paling mengejutkan: semakin seorang tukang terserap dalam pemakaian palu yang berfungsi baik, palu itu menjadi tak-nampak. Ia menyingkir ke dalam keandalannya. Baru ketika palu rusak, dunia tiba-tiba muncul ke permukaan kesadaran. Kerusakan peralatan adalah momen di mana jaringan signifikansi yang biasanya tersembunyi berkelebat terlihat. Dari sini terbuka pembeda yang menentukan antara cara sains dan cara keseharian berhubungan dengan dunia: pengetahuan teoretis adalah relasi yang sudah menangguhkan keterlibatan sehari-hari, sebuah posisi turunan dari keterlibatan langsung yang sudah lebih dulu ada.

Totalitas jaringan "demi apa" yang saling bertautan inilah yang Heidegger sebut signifikansi (Bedeutsamkeit), dan signifikansi adalah struktur dunia itu sendiri.

Das Man: Kediktatoran Tanpa Wajah

Analisis being-with memperlihatkan bahwa Dasein selalu sudah ada bersama orang lain. Dari sana Heidegger membuka fenomena yang paling menentukan dalam kehidupan sehari-hari: das Man, "the they."

The they adalah struktur anonim yang meregulasi cara-cara ada dalam kehidupan sehari-hari. "Orang-orang bilang...," "sudah lazim...," "biasanya dilakukan...." Kalimat-kalimat itu beroperasi tanpa pengirim yang bisa diidentifikasi, tanpa anggota yang bisa dipanggil namanya, tanpa pusat yang bisa dilacak.

"In this inconspicuousness and unascertainability, the they unfolds its true dictatorship. We enjoy ourselves and have fun the way they enjoy themselves. We read, see, and judge literature and art the way they see and judge. But we also withdraw from the 'great mass' the way they withdraw, we find 'shocking' what they find shocking."

The they menjalankan kekuasaannya melalui perataan ke bawah: setiap keistimewaan ditarik ke level rata-rata, setiap yang orisinal diratakan menjadi yang sudah-diketahui semua orang.

"Every priority is noiselessly squashed. Overnight, everything that is original is flattened down as something long since known. Everything won through struggle becomes something manageable. Every mystery loses its power."

Paling licin, the they hadir di mana-mana, namun begitu Dasein menginginkan keputusan yang sungguh-sungguh, the they sudah menghilang. Ia adalah pelarian sempurna dari tanggung jawab.

"The they is everywhere, but in such a way that it has always already stolen away when Dasein presses for a decision. However, because the they presents every judgment and decision as its own, it takes the responsibility of Dasein away from it."

Konklusi yang mengejutkan: diri Dasein sehari-hari adalah they-self. "Aku" yang pertama-tama hadir bagi Dasein dalam kehidupan biasa adalah aku yang sudah dibentuk oleh keumuman anonim.

"Everyone is the other, and no one is himself. The they, which supplies the answer to the who of everyday Dasein, is the nobody to whom every Dasein has always surrendered itself, in its being-among-one-another."

The they adalah salah satu penemuan paling menusuk dalam sejarah filsafat. Ia menggambarkan sesuatu yang kita rasakan sehari-hari, sesuatu yang tidak punya bahasa untuk dirumuskan sebelum Heidegger merumuskannya. Tekanan untuk "seperti orang lain," interpretasi tentang apa yang penting, apa yang pantas, apa yang perlu dilakukan, semuanya sudah hadir sebelum kita sempat memilih. The they bekerja dengan paling tidak terlihat justru ketika ia paling kuat: ia tidak memaksa, ia hanya menentukan apa yang "sudah jelas."

Kecemasan, Care, dan Kematian

Heidegger memerlukan satu attunement yang bisa membuka Dasein secara menyeluruh dalam satu gerakan. Pilihan jatuh pada kecemasan (Angst), yang berbeda secara mendasar dari ketakutan (fear).

Ketakutan selalu terarah pada sesuatu yang spesifik: benda berbahaya, situasi tertentu. Kecemasan bekerja dengan cara lain sepenuhnya. Seluruh jaringan relevansi yang biasanya menopang keseharian, peralatan, tugas, orang-orang sekitar, semuanya runtuh ke dalam ketidakpentingan. Dunia masih ada secara fisik, sudah tidak lagi menawarkan tempat berpijak.

"What anxiety is about is completely indefinite. This indefiniteness not only leaves factically undecided which innerworldly being is threatening, it also means that innerworldly beings in general are not 'relevant.' Nothing which is at hand and present within the world functions as that which anxiety is anxious about."

Kecemasan mengindividualisasi. Ia mencabut Dasein dari kenyamanan the they dan membawanya berhadapan dengan dirinya sendiri sebagai being-in-the-world yang murni. Dari kecemasan, struktur total Dasein menjadi terlihat, dan Heidegger merumuskannya sebagai care [Sorge]: being-ahead-of-oneself-already-in-(the-world)-as-being-together-with. Tiga momen care, yaitu (1) being-ahead-of-itself, (2) already-being-in, dan (3) being-together-with, adalah satu fenomen yang serentak nyata dalam setiap momen eksistensi.

Divisi Dua membuka dengan pertanyaan yang lebih mendesak: mungkinkah kita memahami Dasein sebagai suatu keseluruhan? Satu-satunya cara menutup ketidaklengkapan itu adalah kematian. Heidegger membedakan tiga hal: perishing (berakhirnya kehidupan biologis), demise (berakhirnya Dasein secara klinis), dan dying (Sterben), cara berada Dasein menuju kematiannya. Hanya dying yang relevan untuk analisis eksistensial.

"Death is a way to be that Dasein takes over as soon as it is. 'As soon as a human being is born, he is old enough to die right away.'"

Kematian sebagai kemungkinan eksistensial memiliki tiga sifat. Pertama, ownmost: paling milik Dasein sendiri, tidak bisa diwakilkan, tidak ada yang bisa mati menggantikan saya. Kedua, nonrelational: memutuskan semua relasi, Dasein dilempar kembali kepada dirinya sendiri sepenuhnya. Ketiga, insuperable: tidak bisa dilampaui, tidak ada posisi "di balik" kematian dari mana kita bisa memandangnya dari jarak aman.

Anticipation (Vorlaufen), berlari ke depan ke dalam kemungkinan kematian tanpa mengusahakan aktualisasinya, adalah cara Dasein berada secara autentik menuju kematiannya. Anticipation membuka kebebasan yang lebih dalam: kebebasan memilih kemungkinan-kemungkinan faktis secara autentik, terbebas dari ilusi the they.

Hati Nurani, Resoluteness, dan Temporalitas

Dari mana Dasein memperoleh kesaksian bahwa ada cara hidup yang autentik baginya? Heidegger menemukannya dalam hati nurani (Gewissen). Hati nurani di sini adalah panggilan (Ruf) yang berakar dalam struktur ontologis Dasein sendiri, jauh lebih dalam dari sensor moral atau suara eksternal.

Panggilan itu sunyi. Ia tidak membawa pesan konkret, tidak memberi instruksi, tidak membuka percakapan.

"Conscience speaks solely and constantly in the mode of silence."

Siapa yang memanggil? Dasein itu sendiri, dalam modusnya yang tak dikenal oleh diri keseharian: Dasein dalam uncanniness (Unheimlichkeit), Dasein yang terlempar, yang tidak benar-benar di rumah dalam kenyamanan semu kehidupan the they.

Merespons panggilan dengan tepat adalah "wanting to have a conscience": kesiapan untuk dipanggil. Struktur eksistensial dari kesiapan itu adalah resoluteness (Entschlossenheit): keterbukaan autentik yang sunyi, siap menghadapi kecemasan, memproyeksikan diri atas ke-bersalahan yang paling dalam. Resoluteness melempar Dasein kembali ke dalam situasi konkretnya dengan kejernihan yang lebih penuh.

Puncak seluruh analitik adalah jawaban terhadap pertanyaan: apa yang memungkinkan anticipatory resoluteness sebagai wholeness autentik Dasein? Jawabannya adalah temporalitas (Zeitlichkeit). Temporalitas di sini adalah gerak primordial Dasein itu sendiri. Waktu jam dan kalender adalah hasil dari temporalitas yang sudah diratakan.

"Coming back to itself, from the future [Zukunftig], resoluteness brings itself to the situation in making it present. Having-been arises from the future in such a way that the future that has-been (or better, is in the process of having-been) releases the present from itself. This unified phenomenon of the future that makes present in the process of having-been is what we call temporality. Only because Dasein is determined as temporality does it make possible for itself the authentic potentiality-of-being-a-whole of anticipatory resoluteness which we characterized. Temporality reveals itself as the meaning of authentic care."

Temporalitas primordial terdiri dari tiga ekstase: future, having-been, dan present. Ketiganya adalah cara Dasein berdiri di luar dirinya sendiri menuju tiga arah sekaligus, dan ketiganya selalu beroperasi bersama; model garis waktu dengan titik-titik terpisah tidak menangkap ini. Dalam temporalitas primordial, future memiliki prioritas.

Perbedaan antara "sekarang" (now) dan "Momen" (Augenblick) memiliki bobot tersendiri. Sekarang adalah titik pada garis waktu tempat sesuatu terjadi. Momen adalah present yang ditahan oleh masa depan dan masa-lalu-yang-dimiliki, sehingga Dasein sungguh-sungguh hadir di situasinya. Tanpa Momen, yang ada hanyalah kesibukan yang bergulir.

Historisitas dan Pertanyaan yang Terbuka

Historisitas (Geschichtlichkeit) adalah konsekuensi langsung dari temporalitas. Dasein adalah historis karena ia temporal dalam dasarnya; historisitas itu berakar jauh sebelum Dasein kebetulan hidup dalam waktu.

"The analysis of the historicity of Dasein attempted to show that this being is not 'temporal' because it 'is in history,' but that, on the contrary, it exists and can exist historically only because it is temporal in the ground of its being."

Dari historisitas lahir konsep nasib (Schicksal): cara Dasein dalam resolusi autentik meneruskan dirinya kepada dirinya sendiri, mengambil warisan kemungkinan-kemungkinan faktisnya secara bebas. Pengulangan (Wiederholung) adalah cara resolusi merespons kemungkinan-kemungkinan eksistensial yang pernah nyata dan masih bisa nyata, karena kemungkinan itu tidak pernah "lewat" dalam arti ontologis.

Being and Time berakhir dengan pertanyaan yang tidak dijawab:

"Is there a way leading from primordial time to the meaning of being? Does time itself reveal itself as the horizon of being?"

Bagian ketiga Being and Time yang akan menjawab pertanyaan itu tidak pernah ditulis. Buku ini berakhir tepat saat pertanyaan yang paling mendasar sudah cukup dipersiapkan untuk bisa ditanyakan secara sungguh-sungguh. Kalimat terakhir Being and Time adalah tanda tanya. Itu adalah pernyataan bahwa pertanyaan yang paling dalam tidak pernah bisa ditutup oleh satu buku, satu manusia, atau satu generasi.

Poin Penting

  1. Being-in-the-world adalah konstitusi primordial Dasein, satu fenomen tunggal. Heidegger membongkar fondasi filsafat modern yang mengandaikan subjek terkurung di dalam dirinya sendiri lalu harus menjangkau dunia di luar sana. Dasein sudah selalu ada di luar, bersama benda-benda yang ditemuinya, dalam jaringan signifikansi yang hadir sebelum refleksi apapun. Konsekuensinya menjalar jauh: seluruh problem epistemologis tentang bagaimana subjek menjangkau objek lahir dari asumsi yang keliru, dan gugur dengan sendirinya begitu asumsi itu dibongkar.

  2. Das Man menyetir diri keseharian lewat keumuman tanpa wajah. "Aku" yang pertama hadir dalam hidup biasa sudah dibentuk oleh keumuman anonim, lengkap dengan ukuran tentang apa yang penting dan apa yang pantas, jauh sebelum ada pilihan yang sadar.

  3. Kematian adalah kemungkinan paling milik Dasein: ownmost, nonrelational, insuperable. Ia sudah diemban sejak kelahiran dan bekerja di setiap pilihan, aktif jauh sebelum peristiwa biologis di ujung garis itu tiba. Anticipation, gerak berlari ke depan ke dalam kemungkinan itu, membuka kebebasan yang lebih dalam daripada kehidupan yang terus melarikan diri dari kesadaran akan akhirnya sendiri.

  4. Temporalitas adalah makna ontologis dari care, dan di sinilah tesis besar buku ini berlabuh. Tiga momen care (being-ahead-of-itself, already-being-in, being-together-with) mendapat landasannya dari tiga ekstase waktu: future, having-been, dan present. Ketiganya adalah cara Dasein berdiri di luar dirinya sendiri sekaligus menuju tiga arah, sebuah kesatuan yang model garis-waktu dengan titik-titik berurutan sama sekali gagal menangkap. Future memegang prioritas: dari gerak datang-menuju-diri itulah having-been dan present memperoleh maknanya. Seluruh analisis sebelumnya, dari pemahaman dan kecemasan sampai care, akhirnya bermuara pada waktu sebagai fondasi keberadaan.

  5. Keterlibatan praktis mendahului pengetahuan teoretis. Tukang yang memalu dengan mahir tidak memikirkan palunya; palu itu menyingkir ke dalam keandalannya. Pengetahuan teoretis baru muncul ketika keterlibatan ini macet atau sengaja ditangguhkan.

  6. Resoluteness adalah keterbukaan autentik Dasein dari dalam situasi konkretnya. Hati nurani memanggil dalam kesunyian, menyeru kepada being-guilty yang paling primordial. Resoluteness menjawab panggilan itu dengan kesiapan menggenggam kemungkinan-kemungkinannya sebagai milik sendiri, dari dalam keterlemparan yang sudah ada di sana.

  7. Destruksi tradisi memulihkan akses ke pertanyaan yang tertutup. Konsep yang terasa "sudah jelas dengan sendirinya" justru menandai pertanyaan asli yang sudah terlupakan; membongkar lapisan yang mengeras itu adalah jalan kembali kepadanya.

Penilaian Kritis

Kekuatan

1. Pertanyaan yang diajukan sungguh-sungguh orisinal Heidegger berhasil menunjukkan bahwa "Ada" [Sein] adalah pertanyaan yang benar-benar terlupakan, sudah terkubur di bawah lapisan-lapisan tradisi yang mengeras. Gerakan itu sendiri, mempersoalkan apa yang sudah terlalu jelas untuk dipertanyakan, adalah sumbangan filosofis yang bertahan jauh melampaui jawaban-jawaban yang diberikan buku ini.

2. Analisis das Man dan autentisitas memiliki kekuatan diagnostik yang luar biasa Deskripsi tentang the they dan cara ia beroperasi melalui perataan, melalui "orang-orang bilang," melalui pelarian dari keputusan yang sungguh-sungguh, adalah salah satu deskripsi paling jernih tentang kondisi sosial yang pernah ditulis dalam bahasa filsafat. Kekuatan diagnostik itu bertahan bahkan bagi pembaca yang tidak menerima kerangka ontologisnya secara penuh.

3. Fenomenologi keterlibatan praktis mendahului banyak perkembangan ilmu kognitif Pembedaan antara handiness dan objective presence, antara keterlibatan langsung dan kontemplasi yang menangguhkan, mendahului temuan-temuan dalam ilmu kognitif tentang embodied cognition dan tacit knowledge yang baru berkembang satu atau dua generasi kemudian.

Keterbatasan

1. Bahasa teknis yang sangat tebal menghalangi akses Heidegger membangun bahasa baru yang dipertanggungjawabkan di dalam teks; konsekuensinya adalah pembaca harus belajar bahasa itu sambil membaca. Tanpa panduan awal yang memadai, sebagian besar teks terasa seperti labirin. Terjemahan Joan Stambaugh (2010) membantu, dengan tetap memerlukan komitmen bacaan yang serius.

2. Sisi politik Heidegger sulit diabaikan Keterlibatan Heidegger dengan rezim Nazi pada 1933-1934, serta debat tentang sejauh mana hubungan antara filsafatnya dan pilihan politiknya, adalah pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan di sini. Pembaca perlu mengetahui konteks itu dan memutuskan sendiri bagaimana menempatkannya dalam pembacaan.

3. Analisis temporalitas dan historisitas menuntut banyak dari pembaca Divisi Dua, khususnya bab-bab tentang temporalitas dan historisitas, adalah bagian terpadat dan paling sulit diikuti. Hubungan antara temporalitas primordial dan "waktu biasa" yang mengalir tidak selalu terasa tuntas di dalam teks itu sendiri.

Kesimpulan

Being and Time adalah buku yang cocok dibaca dalam dua tahap: pertama dengan panduan sekunder (Dreyfus, Blattner, atau Safranski), lalu kembali ke teks asli. Ia layak dibaca oleh siapapun yang ingin memahami fondasi fenomenologi dan eksistensialisme; oleh mereka yang bekerja dengan pertanyaan tentang kesadaran, waktu, atau autentisitas; dan oleh mereka yang merasa kehidupan sehari-hari mereka sudah terlalu jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang sesungguhnya mereka miliki.

Heidegger memberikan perangkat untuk bertanya dengan lebih tepat. Itulah sekaligus keterbatasan dan nilai terbesarnya; jawaban yang bisa langsung diterapkan ada di buku lain.

Bacaan Terkait

Untuk konteks dan kelanjutan:

  • Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception (1945) - memperluas analisis keterlibatan tubuh dengan dunia, sebagai resonansi langsung dengan konsep handiness Heidegger
  • Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (1960) - hermeneutika sebagai kelanjutan dari historisitas Dasein
  • Rudiger Safranski, Martin Heidegger: Between Good and Evil (1998) - biografi filosofis terbaik, menyertakan konteks politik tanpa mengabaikan bobot pemikirannya
  • Hubert Dreyfus, Being-in-the-World (1991) - komentar analitis terbaik atas Divisi Satu, sangat membantu sebelum atau sesudah membaca teks asli
  • Viktor Frankl, Man's Search for Meaning (1946) - dari sudut terapeutik yang berbeda, terus bergulat dengan pertanyaan yang sama: apa yang membuat eksistensi bermakna di hadapan kematian

FAQ

Apakah saya perlu membaca filsafat lain sebelum membaca Being and Time? Pengetahuan dasar tentang Descartes, Kant, dan Husserl sangat membantu. Heidegger terus-menerus berdialog dengan tradisi itu, dan tanpa konteksnya, banyak gerakan argumentatif terasa mengambang. Sebuah pengantar filsafat Barat modern yang solid cukup sebagai bekal awal.

Terjemahan mana yang direkomendasikan untuk pembaca Indonesia? Terjemahan Joan Stambaugh yang direvisi (SUNY Press, 2010) adalah yang paling banyak digunakan dalam konteks akademis saat ini dan relatif lebih mudah dibaca dibanding terjemahan Macquarrie-Robinson (1962). Belum ada terjemahan bahasa Indonesia yang komprehensif per 2026.

Apakah autentisitas Heidegger sama dengan "menjadi diri sendiri" dalam arti populer? Autentisitas dalam Being and Time jauh lebih spesifik dan lebih berat dari slogan itu. Ia adalah cara Dasein menggenggam kemungkinan-kemungkinannya sebagai benar-benar miliknya, dalam kesadaran penuh akan keterlemparan dan kematian, dari dalam situasi konkret yang sudah ada di sana. Ia bisa terjadi dalam tindakan yang sangat biasa sekalipun.

Kenapa Heidegger memilih istilah "Dasein" dan bukan "manusia" atau "subjek"? Pilihan itu adalah keputusan filosofis. "Manusia" membawa terlalu banyak asumsi biologis atau teologis. "Subjek" membawa asumsi epistemologis Cartesian yang hendak ia tinggalkan. "Dasein" (secara harfiah: "ada-di-sana") menekankan bahwa makhluk yang dimaksud selalu sudah ada di dalam dunia, terlempar ke dalam situasi tertentu, belum selesai.

Apa hubungan antara das Man dan sosiologi atau psikologi sosial? Das Man adalah struktur ontologis, beroperasi di lapisan yang lebih dalam dari apapun yang bisa diukur sosiologi. Heidegger tidak sedang menggambarkan konformisme sebagai fenomena sosial. Ia sedang menunjukkan bahwa diri yang anonim dan tak-berwatak ini adalah cara Dasein ada secara primordial sebelum ada diferensiasi apapun. Sosiologi Goffman tentang penampilan-diri, atau psikologi sosial tentang conformity experiments Asch, bergerak di level yang berbeda, lebih fenomental dan lebih terukur.

Apakah Being and Time selesai sebagai karya? Secara eksplisit, tidak. Heidegger merencanakan tiga divisi; hanya dua yang diterbitkan. Divisi ketiga, yang seharusnya menjawab pertanyaan tentang waktu sebagai cakrawala bagi makna ada secara umum, tidak pernah hadir. Banyak komentator berpendapat bahwa dua divisi yang ada sudah membentuk satu keseluruhan yang kohesif dalam dirinya sendiri, dan pertanyaan yang terbuka di akhir adalah bagian dari integritas filosofis buku itu.

Apakah Being and Time relevan bagi pembaca non-akademis? Relevan, dengan syarat ekspektasi yang tepat. Buku ini tidak memberikan panduan hidup atau strategi praktis. Ia memberikan kosakata untuk melihat lebih jernih: siapa yang sesungguhnya membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari saya (Dasein ataukah the they), apakah cara saya mengisi hari adalah waktu yang sungguh-sungguh hadir ataukah sekadar deret "sekarang" yang bergulir tanpa arah. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memerlukan gelar filsafat untuk terasa menohok.

Bagaimana hubungan Heidegger dengan keterlibatannya pada Nazisme? Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa diabaikan. Heidegger bergabung dengan Partai Nazi pada 1933 dan menjadi rektor Universitas Freiburg dengan program yang mendukung ideologi itu, meski ia mundur setahun kemudian. Debat tentang seberapa jauh hubungan antara filsafatnya dan pilihan politiknya masih berlangsung hingga kini, diperparah oleh publikasi Schwarze Hefte (Buku Catatan Hitam) yang memuat pernyataan antisemitik. Buku Being and Time sendiri, yang terbit 1927, mendahului periode paling kontroversial itu. Pembaca dianjurkan membaca Safranski dan Trawny untuk konteks yang lebih lengkap sebelum memutuskan sikap.

amhar
Loading...