Heidegger, Keberadaan, dan Pertanyaan Pertama Filsafat
Buku

Heidegger, Keberadaan, dan Pertanyaan Pertama Filsafat

oleh Martin Heidegger

4.5/5
Halaman:254
Penerbit:Yale University Press
Tahun:1953
#metafisika#ontologi#heidegger#eksistensialisme#filsafat-jerman#being#dasein#filsafat-barat#bacaan-eksistensial#logos#phusis#filsafat-yunani

Kenapa Baca Ini

Heidegger membongkar dua milenium kelupaan Being dalam kuliah Freiburg 1935, dari pertanyaan paling mendasar filsafat hingga bencana spiritual manusia modern.

Pertanyaan yang membuka buku ini terdengar sederhana: mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan? Heidegger mengklaim pertanyaan itu adalah yang paling luas, paling dalam, dan paling orisiner dari semua pertanyaan yang bisa diajukan manusia. Ia tidak menjawabnya. Ia justru menunjukkan bahwa seluruh sejarah filsafat Barat telah bergerak sedemikian rupa sehingga pertanyaan ini terlupakan, terkubur di bawah sistem-sistem besar yang berdiri di atas fondasi yang tidak pernah diperiksa.

Buku ini cocok dibaca berdampingan dengan Tolstoy, Camus, dan Iqbal dalam seri yang sama. Tolstoy menghadapi pertanyaan ada lewat kematian dan pertobatan. Camus menghadapinya lewat absurditas dan pemberontakan. Iqbal lewat kehendak dan relasi dengan Yang Tak Terbatas. Heidegger mengambil jalan yang berbeda dari ketiganya: ia menggali ke bawah semua jawaban, mencari cara bertanya yang jujur. Bagi pembaca yang ingin memahami mengapa modernitas terasa kehilangan akar, dan mengapa pertanyaan tentang makna terus muncul kembali tanpa bisa dipuaskan, buku ini menawarkan diagnosis yang dalam dan tanpa penghiburan.


Pertanyaan yang Memantul Kembali

Heidegger membuka kuliah 1935 ini dengan satu kalimat yang ia sebut bukan kalimat sembarangan:

"WHY ARE THERE beings at all instead of nothing? That is the question. Presumably it is no arbitrary question."

Pertanyaan ini memiliki tiga pangkat yang menempatkannya di atas semua pertanyaan lain. Pangkat pertama: ia adalah yang terluas, merangkul seluruh ada termasuk kemungkinan tidak adanya segala sesuatu. Pangkat kedua: ia adalah yang terdalam, menggali sampai ke dasar apakah ada yang menopang atau ada jurang yang menolak menopang. Dan pangkat ketiga yang paling ganjil: pertanyaan ini adalah yang paling orisiner, karena ketika kita bertanya tentang ada sebagai keseluruhan, pertanyaan itu berbalik kepada sang penanya sendiri.

"What is asked in this question rebounds upon the questioning itself."

Memantulnya pertanyaan kepada sang penanya adalah tanda bahwa ia tidak bisa diajukan sambil lalu. Heidegger memilih kata Jerman Ur-sprung, lompatan-asal, untuk menggambarkan apa yang dituntut oleh pertanyaan ini: tanah yang dipijak hanya bisa dicapai dengan melompat, dan tanah itu lahir dalam lompatan itu sendiri.

Pertanyaan ini muncul dalam tiga keadaan jiwa: dalam keputusasaan besar ketika semua bobot sesuatu menguap, dalam sukacita tulus ketika kegembiraan mengubah segala sesuatu seolah tampak pertama kali, dan dalam kebosanan mendalam ketika kebiasaan-kebiasaan dunia terbentang seperti padang gurun. Ketiganya adalah momen di mana lapisan kebiasaan sehari-hari retak. Ivan Ilyich dalam kesakitan terminalnya di Tolstoy menghadapi pertanyaan serupa; Roquentin dalam La Nausée Sartre mual di hadapan kenyataan bahwa benda-benda hanya ada tanpa alasan. Keadaan-keadaan itu diidentifikasi Heidegger sebagai kondisi eksistensial manusia yang paling otentik.


Being Sebagai Uap yang Menguap

Setelah menetapkan pertanyaan pokok, Heidegger mundur selangkah untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendesak: bagaimana keadaan Being sekarang? Dan jawabannya jujur sekaligus mengejutkan.

"The word 'Being' is then finally just an empty word. It means nothing actual, tangible, real. Its meaning is an unreal vapor."

Diagnosis ini berasal dari Nietzsche, yang menyebut Being sebagai "sisa paling terakhir dari realitas yang menguap." Heidegger menerima fakta itu, lalu membalik pertanyaannya: apakah ini salah Being sendiri, atau salah sesuatu yang jauh lebih dalam dari kelalaian individual? Jawabannya mengarah pada yang ketiga: ini adalah peristiwa sejarah yang mengalir melalui Barat sejak permulaan filsafat di Yunani.

Yang lebih berat lagi: kita tidak berdiri di luar fakta ini sebagai pengamat dari jarak aman.

"We do not just stand before this fact as something alien and other, which we may simply ascertain as an occurrence in its Being-present-at-hand. The fact is such that we stand within it."

Kita hidup di dalamnya. Kondisi ini menyangkut seluruh cara kita berhubungan dengan Being, dan dengan menyadarinya kita sudah mengambil langkah pertama yang diperlukan. Ada kemiripan antara diagnosis Heidegger tentang Seinsvergessenheit, kelupaan Being, dengan apa yang Tolstoy gambarkan lewat kematian Gerasim yang damai. Gerasim, petani sederhana yang merawat Ivan, tidak punya lapisan konseptual yang menutupi kenyataan. Ivan hidup dalam hingar-bingar beings: jabatan, furnitur indah, hubungan sosial yang tepat, tanpa sekali pun berdiri di hadapan pertanyaan tentang Being-nya sendiri.


Kegelapan Dunia dan Tegangan 1935

Kuliah ini disampaikan pada 1935 di Jerman. Fakta itu melekat pada setiap kalimatnya.

Heidegger melihat Eropa sebagai pusat peradaban Barat yang terjepit antara dua kekuatan:

"This Europe, in its unholy blindness always on the point of cutting its own throat, lies today in the great pincers between Russia on the one side and America on the other. Russia and America, seen metaphysically, are both the same: the same hopeless frenzy of unchained technology and of the rootless organization of the average man."

Dalam pandangannya, Rusia dan Amerika adalah dua wujud metafisik dari gejala yang sama: dunia yang kehilangan akar, di mana ukuran segalanya adalah kuantitas, kecepatan, dan jangkauan teknis. Heidegger mengidentifikasi empat tanda kegelapan dunia: larinya para dewa, kehancuran bumi, reduksi manusia menjadi massa, dan dominasi yang biasa-biasa saja. Keempat tanda itu ia ajukan sebagai diagnosis struktural tentang kondisi spiritual manusia Barat. Pesimisme maupun optimisme, ia sebut sendiri, adalah "kategori kekanak-kanakan yang sudah lama menjadi bahan tertawaan."

Spirit yang sesungguhnya ia rumuskan sebagai:

"Spirit is neither empty acuity, nor the noncommittal play of wit, nor the understanding's boundless pursuit of analysis, nor even world reason, but rather spirit is originally attuned, knowing resolution to the essence of Being."

Tentang konteks 1935 dan kontroversi Nazi. Heidegger yang berkuliah di Freiburg pada tahun itu adalah orang yang setahun sebelumnya menjabat sebagai Rektor Universitas Freiburg di bawah pemerintahan Nazi, dengan pidato pengangkatan yang sarat semangat kebangsaan. Keterlibatannya dengan rezim itu adalah fakta yang tidak bisa dipisahkan dari teks ini, dan pembaca berhak mengetahuinya sebelum membaca halaman pertama. Di bab terakhir buku ini muncul kalimat yang menjadi salah satu titik paling diperdebatkan dalam seluruh corpus Heidegger:

"In particular, what is peddled about nowadays as the philosophy of National Socialism, but which has not the least to do with the inner truth and greatness of this movement [namely, the encounter between global technology and modern humanity], is fishing in these troubled waters of 'values' and 'totalities.'"

Frasa "inner truth and greatness of this movement" itu diucapkan pada 1935. Klausa dalam tanda kurung siku adalah tambahan retroaktif yang Heidegger masukkan pada edisi cetak 1953, mengklaim bahwa yang ia maksud adalah "pertemuan antara teknologi global dan manusia modern." Apakah itu perlindungan filosofis yang jujur atau rasionalisasi setelah fakta adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah. Heidegger sendiri tidak pernah meminta maaf secara langsung atas keterlibatannya dengan Nazisme. Pembaca yang serius dengan teks ini perlu duduk bersama tegangan itu, sebagai bagian dari kenyataan tekstual buku ini.


Tata Bahasa, Etimologi, dan Mengapa Being Terasa Kosong

Setelah menetapkan krisis, Heidegger masuk ke penyelidikan linguistik yang sesungguhnya adalah penyelidikan filosofis paling serius dalam buku ini. Mengapa kata "Being" terasa kosong?

Dari sisi tata bahasa: kata "Being" (das Sein) dibentuk dari infinitif "to be." Infinitif membuang orang, jumlah, kala, modus, menyisakan hanya makna verbal yang paling tak tertentu. Ketika infinitif itu lalu dinominalkan menjadi kata benda, ia dikunci seolah nama bagi sesuatu yang berdiri tetap. Paradoks terbentuk: Being seolah-olah menjadi sesuatu yang "ada," padahal hanya beings yang ada.

Dari sisi etimologi, kata kerja "to be" dalam bahasa Jerman adalah peleburan tiga batang kata purba. Batang es (Sanskerta: asus) berarti kehidupan, yang dari dalam dirinya sendiri berdiri dan bergerak. Batang bhu/bheu/phu berarti muncul ke permukaan, berkuasa, datang ke kestabilan dari dalam dirinya sendiri, akar phusis. Batang wes berarti tinggal, berdiam, menetap, akar Wesen (esensi) yang secara etimologis bermakna bertahan sebagai yang hadir.

"From the three stems we derive three initial and vividly definite meanings: living, emerging, abiding. Linguistics establishes them. Linguistics also establishes that today these initial meanings have died out, that only an 'abstract' meaning, 'to be,' has survived."

Ketiga makna itu adalah tiga cara mengalami satu hal yang sama: hadirnya sesuatu yang berdiri sendiri. Dan bagi orang Yunani, Being berarti persis itu:

"This standing-there, this taking and maintaining a stand that stands erected high in itself, is what the Greeks understood as Being."


Empat Pembatasan Being

Bagian terbesar buku ini adalah penelusuran empat pasang oposisi yang telah membentuk dan membatasi pemahaman Barat tentang Being sejak Yunani: Being vs. Becoming, Being vs. Seeming, Being vs. Thinking, Being vs. yang-seharusnya-ada.

Being dan Becoming. Tradisi filsafat lazim mempertentangkan Parmenides (Being, ketetapan) dengan Heraclitus (Becoming, perubahan). Heidegger menolak pertentangan itu dengan tegas:

"Heraclitus, to whom one ascribes the doctrine of becoming, in stark contrast to Parmenides, in truth says the same as Parmenides. He would not be one of the greatest of the great Greeks if he said anything else."

Keduanya berdiri di atas tanah phusis yang sama. Parmenides berbicara tentang ketahanan kehadiran Being; Heraclitus berbicara tentang gerak kemunculannya.

Being dan Seeming. Phusis (akar phu-) dan phainesthai (akar pha-, "menampakkan diri") adalah satu keluarga. Being adalah appearing:

"Being means appearing. Appearing does not mean something derivative, which from time to time meets up with Being. Being essentially unfolds as appearing."

Keruntuhan terjadi ketika Plato dan kaum Sofis menjadikan seeming sebagai "sekadar tampak" dan mengangkat Being ke alam supra-inderawi. Celah itu (khōrismos) lalu ditempati oleh doktrin Kristen, dan seluruh metafisika Barat berjalan di atas celah yang terbuka oleh Plato.

Being dan Thinking. Ini adalah pembatasan yang paling menentukan. Di sini Being dijadikan objek (Gegenstand) yang berdiri di hadapan thinking sebagai subjek, dan thinking menjadi hakim atas Being. Untuk memahami bahwa ini adalah kejatuhan, Heidegger kembali ke Heraclitus: logos dalam pengertian aslinya adalah pengumpulan (gathering), keterumpulan yang terus berkuasa dalam dirinya sendiri.

"Logos is constant gathering, the gatheredness of beings that stands in itself, that is, Being. So kata ton logon in fragment 1 means the same as kata phusin. Phusis and logos are the same."

Lalu ada pernyataan Parmenides yang paling sering disalahartikan: to gar auto noein estin te kai einai. Terjemahan lazim berbunyi "thinking and Being are the same," tapi Heidegger membongkar terjemahan itu. Yang dikatakan Parmenides adalah:

"The saying does not say, 'thinking and Being are the same,' but instead says, 'belonging-together reciprocally are apprehending and Being.'"

Manusia adalah pihak yang turut terjadi ketika Being tampak. Ia termasuk dalam peristiwa penampakan Being itu sendiri.

Manusia sebagai yang Paling Uncanny. Puncak intensitas buku ini ada di bab tentang ode paduan suara dalam Antigone Sophocles. Manusia adalah to deinotaton, yang paling uncanny dari semuanya. Kata deinon memikul dua muatan sekaligus: yang menggentarkan karena sway-nya yang tak bisa ditaklukkan, dan yang melakukan kekerasan karena menerobos masuk ke dalam yang menggulung.

"Humanity is violence-doing not in addition to and aside from other qualities, but solely in the sense that from the ground up and in its doing violence, it uses violence against the over-whelming."

Manusia adalah pantoporos aporos: setiap jalan tersedia, tiada jalan keluar. Ia menjelajah ke mana-mana, membangun bahasa, mendirikan kota, membuat hukum, dan justru dalam penjelajahan ke mana-mana itu ia tidak pernah tiba di rumah yang tetap. Kematian adalah satu hal yang terhadapnya semua kekerasan manusia langsung pecah berkeping.

Technē dalam pengertian Yunani adalah kemampuan menyetel Being ke dalam karya, membawa yang tersembunyi ke dalam ketampakan. Dikē adalah kesesuaian (Fug), tatanan yang Being sendiri berikan kepada gerak-kuasanya. Manusia bergerak dalam teknē, menerobos keluar terhadap dikē. Dan dalam setiap terobosan itu ia selalu remuk, karena:

"For such a one, disaster is the deepest and broadest yes to the overwhelming."

Being dan yang-seharusnya-ada. Pembatasan keempat tumbuh dari dalam Being sendiri. Begitu Plato menetapkan Being sebagai idea dan prototipe, Being aktual selalu jatuh di bawah idenya. Celah itu memunculkan seluruh filsafat nilai: Kant dengan das Sollen, Fichte dengan sistem Being vs. seharusnya, dan seluruh neo-Kantianisme. Heidegger memberi catatan tentang bibliografi 1928 yang mengumpulkan 661 publikasi tentang konsep nilai, dan berkomentar dengan kering: "Probably by now there are a thousand. All this calls itself philosophy."

Tentang Nietzsche: Nietzsche yang membalikkan semua nilai masih berpikir dalam kerangka nilai. Membalikkan nilai adalah tetap tinggal dalam rumah yang sama, hanya berdiri di sisi lain. Untuk keluar dari kerangka itu, seseorang harus mempertanyakan kerangkanya sendiri. Nietzsche tidak beranjak ke sana.


Da-sein dan Tugas yang Tersisa

Heidegger menutup buku ini dengan tugas, sesuatu yang lebih berat dari sistem mana pun. Pertanyaan tentang Being adalah pertanyaan paling mendasar yang manusia bisa ajukan, dan mengabaikannya sambil mengejar beings adalah nihilisme yang sesungguhnya:

"But where is the real nihilism at work? Where one clings to current beings and believes it is enough to take beings, as before, just as the beings that they are... Merely to chase after beings in the midst of the oblivion of Being—that is nihilism."

Dari penyelidikan tentang Being, Heidegger merumuskan posisi manusia:

"Within the question of Being, the human essence is to be grasped and grounded, according to the concealed directive of the inception, as the site that Being necessitates for its opening up. Humanity is the Here that is open in itself. Beings stand within this Here and are put to work in it. We therefore say: the Being of humanity is, in the strict sense of the word, 'Being-here' <'Da-sein'>."

Da-sein, Being-here, adalah "sini" yang terbuka tempat Being membuka dirinya. Tanpa Da-sein yang terbuka itu, pertanyaan tentang Being tidak punya tempat bergema. Manusia adalah situs yang Being perlukan untuk tampak.

Di antara seri bacaan eksistensial ini, posisi Heidegger unik. Iqbal dalam Asrar-i-Khudi menempatkan manusia sebagai pusat pencipta makna, kehendak sebagai realitas paling dasar. Heidegger menempatkan manusia sebagai situs pasif-aktif, tempat yang diperlukan Being untuk tampak. Keduanya sepakat bahwa ada sesuatu yang hilang dalam modernitas; mereka berbeda dalam cara memulihkannya. Camus merespons situasi tanpa ground dengan pemberontakan yang sadar; Heidegger merespons dengan menunggu dalam pertanyaan. Keduanya menolak penghiburan yang mudah.

Kuliah ini ditutup dengan kemampuan menunggu:

"Being able to question means being able to wait, even for a lifetime. But an age for which the actual is only whatever goes fast and can be grasped with both hands takes questioning as 'a stranger to reality,' as something that does not count as profitable. But what is essential is not counting, but the right time, that is, the right moment and the right endurance."

Dan dengan baris Hölderlin:

For the mindful god

does detest

untimely growth.

Filsafat adalah wilayah di mana ketidaksabaran adalah kegagalan.


Poin Penting

  1. Pertanyaan "mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan" adalah pertanyaan paling fundamental dalam filsafat. Ia adalah yang terluas (merangkul seluruh ada termasuk kemungkinan ketiadaan), yang terdalam (menggali sampai ke ground atau Ab-grund), dan yang paling orisiner (berbalik kepada sang penanya sendiri). Yang membuatnya luar biasa adalah cara ia memantul: ketika diajukan dengan sungguh-sungguh, pertanyaan ini mengubah sang penanya. Heidegger menyebutnya menuntut suatu Ur-sprung, lompatan-asal, karena tanah yang dipijak hanya lahir dalam lompatan itu sendiri. Momen di mana pertanyaan ini paling mudah muncul adalah keputusasaan besar, sukacita tulus, dan kebosanan mendalam, ketiganya adalah momen ketika lapisan kebiasaan sehari-hari retak.

  2. Being telah menjadi uap. "The word 'Being' is then finally just an empty word." Heidegger menerima diagnosis Nietzsche ini sepenuhnya, lalu menggeser pertanyaannya ke arah yang lebih dalam: apa yang terjadi secara historis sehingga kita sampai di sini. Jawabannya adalah Seinsvergessenheit, kelupaan Being, sebuah peristiwa sejarah yang mengalir sejak Plato. Kita hidup di dalamnya dan bahkan tidak tahu bahwa kita tidak tahu.

  3. Kata "to be" menyimpan tiga kehidupan yang telah mati. Dari tiga batang Indo-Germanik purba: es (hidup, bergerak dari dalam diri sendiri), bhu/phu (muncul ke permukaan, berkuasa, akar phusis), dan wes (tinggal, berdiam, menetap). Bagi orang Yunani, Being berarti kehadiran yang datang ke dirinya sendiri, berdiri tegak, dan menetap. Ketika ketiganya melebur menjadi infinitif abstrak lalu dinominalkan, kehidupan yang tersimpan di dalamnya padam. Penyelidikan etimologis Heidegger di sini adalah inti diagnostik buku ini.

  4. Manusia adalah yang paling uncanny dari semua makhluk. Bab Antigone adalah puncak intensitas buku ini. Deinon memikul dua muatan: yang menggentarkan sekaligus yang melakukan kekerasan. Manusia adalah pantoporos aporos, setiap jalan tersedia dan tiada jalan keluar. Ia menerobos masuk ke dalam yang menggulung, membangun bahasa dan kota, dan selalu remuk di hadapan satu hal: kematian.

  5. Empat pembatasan Being adalah satu gerakan. Being vs. Becoming, Being vs. Seeming, Being vs. Thinking, Being vs. yang-seharusnya-ada. Semua bermuara pada satu pergeseran: phusis menjadi idea, logos menjadi assertion, alētheia menjadi correctness, manusia menjadi zōon logon echon. Ini adalah deskripsi dari satu kejatuhan panjang yang saling mengunci.

  6. Nihilisme sesungguhnya adalah mengejar beings sambil melupakan Being. Ateisme, pesimisme, kehilangan nilai tradisional, semua itu adalah gejala permukaan. Nihilisme yang sesungguhnya adalah kesibukan yang menolak bertanya. Diagnosis ini terasa profetik di tahun-tahun setelah 1935, ketika dunia yang digambarkan Heidegger terus berakselerasi.

  7. Heidegger tidak menawarkan jawaban. Ia menawarkan kemampuan bertanya, kemampuan menunggu, kemampuan tinggal dalam ketidakpastian tanpa lari ke jawaban yang sudah tersedia. Ini adalah posisi yang membedakannya dari seluruh tradisi filsafat sistematis sebelumnya, dan juga yang membuat buku ini frustrasi bagi pembaca yang datang mencari solusi.


Penilaian Kritis

Kekuatan

1. Kedalaman diagnosis historis yang tak tertandingi. Tidak ada filsuf abad ke-20 yang menggali sejarah metafisika Barat dengan kedalaman dan ketajaman seperti Heidegger dalam buku ini. Penelusurannya dari Yunani awal hingga Nietzsche, melalui Plato, Aristoteles, dan neo-Kantianisme, adalah diagnosis tentang bagaimana cara berpikir kita sendiri terbentuk, dan apa yang hilang dalam pembentukannya.

2. Analisis bahasa dan etimologi sebagai metode filosofis. Cara Heidegger menggunakan tata bahasa dan etimologi untuk membongkar asumsi yang tertanam dalam kata-kata sehari-hari adalah salah satu kontribusi paling orisinal dalam filsafat bahasa. Penyelidikan tentang tiga batang "to be" dan nominalisme infinitif adalah pembongkaran cara Being telah dikunci dalam struktur tata bahasa yang kita warisi.

3. Bab Antigone sebagai filsafat yang juga sastra. Pembacaan Heidegger atas ode paduan suara Sophocles adalah salah satu bagian paling intens dan paling indah dalam seluruh corpus-nya. Di sini filsafat dan sastra berjalan dalam satu jalur, dan argumen tentang manusia sebagai to deinotaton terasa lebih hidup daripada ribuan halaman filsafat analitik tentang hakikat manusia.

Keterbatasan

1. Gaya penulisan yang menuntut harga tinggi. Heidegger menulis dengan kepadatan dan kecepatan yang tidak memberi banyak ruang bagi pembaca yang belum terbiasa dengan tradisi fenomenologi Jerman. Kalimat-kalimatnya sering membutuhkan pembacaan ulang berkali-kali, dan ada momen di mana kegelapan gaya terasa seperti pilihan retoris yang bisa saja ditulis lebih terang.

2. Konteks 1935 dan bayangan Nazisme. Keterlibatan Heidegger dengan rezim Nazi pada 1933-1934, diikuti dengan kuliah 1935 yang memuat kalimat tentang "inner truth and greatness of this movement," adalah beban yang tidak bisa dikesampingkan. Apakah keterlibatan itu mencemarkan seluruh sistem filsafatnya adalah perdebatan yang masih berlangsung. Yang pasti: membaca buku ini tanpa mengetahui konteks itu adalah cara membaca yang tidak jujur terhadap teks maupun terhadap diri sendiri.

3. Ketiadaan peta keluar. Heidegger mendiagnosis dengan brillian. Ia jauh lebih kurang jelas tentang apa yang harus dilakukan sesudah diagnosis itu. Kemampuan bertanya dan menunggu adalah jawaban yang sah secara filosofis, tapi sulit dioperasikan dalam kehidupan konkret. Camus, dalam seri yang sama, memberikan respons yang lebih dapat dipegang: pemberontakan, kebebasan, dan gairah sebagai cara hidup dalam kondisi absurd.

Kesimpulan

Introduction to Metaphysics adalah buku untuk pembaca yang ingin memahami fondasi paling dalam dari cara mereka berpikir, dan bersedia menghadapi kenyataan bahwa fondasi itu retak sejak lama. Ia menuntut kesabaran penuh dan kesiapan untuk tidak mendapat jawaban. Bagi pembaca seri bacaan eksistensial ini, ia adalah batu ujian yang paling keras dan paling tak bisa dihindari. Heidegger memberi rating 4.5 dari 5, dengan satu setengah poin dikurangi dari kesempurnaan karena kegelapan gaya yang kadang melampaui keharusan dan karena bayangan historis yang tidak bisa diabaikan oleh pembaca yang jujur.


Bacaan Terkait


FAQ

Q: Apakah buku ini harus dibaca oleh orang yang bukan filsuf? A: Buku ini menuntut harga yang tinggi dari pembacanya. Tanpa paparan sebelumnya pada Plato, Aristoteles, Heraclitus, dan Kant, banyak bagian akan terasa seperti berjalan di kabut. Titik masuk yang lebih baik ke Heidegger adalah Being and Time, atau sebuah pengantar sekunder yang baik sebelum masuk ke buku ini. Tapi bagi siapa yang sudah membaca Camus dan Tolstoy dalam seri ini dan merasa kering terhadap pertanyaan "mengapa ada ini semua," buku ini adalah lapis berikutnya.

Q: Apa bedanya Heidegger dengan Camus dalam menghadapi pertanyaan eksistensial? A: Camus merespons absurditas dengan pemberontakan: kita tidak bisa melarikan diri dari kondisi tanpa-ground itu, tapi kita bisa meresponsnya dengan gairah, kebebasan, dan pemberontakan yang sadar. Heidegger merespons dengan menunggu dalam pertanyaan, tinggal dalam ketidakpastian tanpa lari ke jawaban yang sudah tersedia. Keduanya menolak penghiburan agama dan sistem filsafat yang menutup pertanyaan dengan solusi prematur. Perbedaannya terletak pada temperamen: Camus adalah seniman, Heidegger adalah arkeolog bahasa.

Q: Apa hubungannya dengan Being and Time? A: Kuliah 1935 ini dalam banyak hal adalah jembatan antara Being and Time (1927) dan pemikiran Heidegger yang lebih matang tentang sejarah Being (Seinsgeschichte). Di Being and Time, Heidegger masih bertanya tentang Being dari sisi eksistensi manusia individual. Di sini ia sudah bergerak ke pertanyaan tentang bagaimana Being sendiri telah terbuka dan tertutup dalam sejarah peradaban Barat. Keduanya bisa dibaca independen, tapi urutan Being and Time sebelum Introduction to Metaphysics lebih membantu.

Q: Seberapa serius bayangan Nazisme dalam membaca buku ini? A: Ini adalah pertanyaan yang tidak boleh dijawab dengan ringan. Heidegger bergabung dengan NSDAP pada Mei 1933, menjabat rektor dengan pidato yang eksplisit mendukung rezim, dan melepas jabatan itu pada Februari 1934. Kuliah 1935 ini disampaikan setahun setelah ia melepas jabatan, dalam periode yang para sarjana sebut sebagai "penarikan diri" dari politik aktif. Kalimat tentang "inner truth and greatness of this movement" tetap ada dalam teks. Tidak ada cara membaca itu sebagai kecelakaan editorial. Pembaca harus memutuskan sendiri apakah dan bagaimana mereka berhadapan dengan kenyataan itu, tapi yang tidak bisa dilakukan adalah berpura-pura ia tidak ada.

Q: Apakah diagnosis Heidegger tentang teknologi masih relevan hari ini? A: Sangat relevan, dan justru terasa lebih tajam sekarang. "Rootless organization of the average man" yang ia gambarkan sebagai gejala metafisik Rusia dan Amerika pada 1935 kini terwujud dalam infrastruktur global yang jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan saat itu. Pertanyaan "untuk apa? ke mana? sesudah itu apa?" yang ia sebut menggantung di atas hingar-bingar teknologi adalah pertanyaan yang semakin keras bunyinya di era ketika setiap manusia sudah terhubung ke seluruh dunia dalam genggaman tangan.

Q: Dari mana mulai membaca jika ini terlalu berat? A: Mulai dari bab satu dan dua. Bagian tentang "mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan" dan tentang keadaan Being sebagai uap adalah yang paling mudah diikuti dan paling kaya secara intuitif. Bab tentang etimologi (bab dua) sudah lebih teknis tapi sangat menarik. Kemudian lompat ke bab tentang Antigone di tengah bab empat. Bab tentang empat pembatasan Being secara keseluruhan adalah yang paling padat dan paling teknis; bisa dibaca di akhir, setelah memiliki pijakan dari bagian-bagian lain.

Q: Apakah ada terjemahan bahasa Indonesia? A: Belum ada terjemahan resmi ke bahasa Indonesia hingga saat ini. Terjemahan Inggris oleh Gregory Fried dan Richard Polt (Yale University Press, 2000) adalah yang paling dapat diandalkan; penerjemah menyertakan catatan kaki yang luas dan terperinci untuk membantu pembaca memahami pilihan terminologis Heidegger.

Q: Apa yang dimaksud Heidegger dengan Da-sein sebagai "situs"? A: Da-sein, Being-here, adalah cara Heidegger menyebut manusia. Definisinya bertolak dari posisi: manusia adalah "sini" yang terbuka, tempat Being membuka dirinya. Tanpa manusia yang bertanya, Being tidak punya tempat bergema. Manusia adalah celah di dalam ada yang memungkinkan ada itu sendiri menjadi pertanyaan. Ini adalah pembalikan terhadap tradisi humanisme yang menempatkan manusia sebagai subjek yang menilai dunia dari luar; dalam Heidegger, manusia adalah bagian dari peristiwa Being itu sendiri.

amhar
Loading...